Mengapa Allah Mewajibkan Suami Sebagai Pencari Rezeki? Dan Hukum Menyuruh Isteri Bekerja. Suami Isteri Kena Baca!

Siapa sebenarnya pencari rezeki atau nafkah dalam rumah tangga? Semua pasti sepakat bahawa suami lah yang perlu mencari rezeki atau nafkah untuk memenuhi keperluan rumah tangganya. 
Mengapa Allah Mewajibkan Suami Sebagai Pencari Rezeki? Dan Hukum Menyuruh Isteri Bekerja. Suami Isteri Kena Baca!

Jadi kalau laki-laki atau suami yang mencari rezeki untuk apa perempuan sekolah tinggi kemudian bekerja? Kadang pertanyaan ini menimbulkan kemarahan sebahagian perempuan yang bekerja sama ada yang telah berkahwin ataupun yang masih bujang.

Tugas utama pencari rezeki ada di bahu suami. Sebuah ayat Al Quran berbunyi seperti ini:
"Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf " (Q.S. Al Baqarah : 233) 
Dan di ayat yang lain 
" Tempatkanlah mereka (para isteri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-istrei yang ditalak ) itu sedang hamil maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka melahirkan". (Q.S. At Thalaq : 6). 

Suami berkewajiban memberi nafkah kepada istrinya seperti ayat di atas. Kewajiban memberi nafkah kepada isteri dan anak-anaknya ini tidak gugur meskipun suaminya miskin dan isterinya kaya / berkecukupan. Dia tetap berkewajiban memberikan nafkah sesuai dengan kemampuannya. 

Seorang isteri tidak berkewajiban mencari rezeki atau nafkah kerana telah dibebankan kepada suaminya.Tugas utama seorang isteri adalah menjadi ibu, mendidik anak-anaknya, menjaga kehormatan diri dan menjaga harta suaminya selama ia tidak ada.

Nafkah yang harus diberikan oleh suami pada isteri dan anak-anaknya antara lain tempat tinggal, makan minum, pakaian dan ubat kala sakit.

Lalu mengapa wanita harus bekerja?
Mengapa wanita harus bekerja jika rezekinya atau nafkahnya telah dibebankan kepada suaminya? Tujuan wanita bekerja adalah untuk mengabdikan ilmunya (doktor, guru, dsb), memberi bakti diri meniti karier di bidang tertentu (polis, hakim, bomba dsb) atau menjadi pengusaha dengan seizin suaminya. 

Nafkah isteri tetap harus diberi oleh suaminya meskipun gaji isteri lebih tinggi daripada suami. Rezeki yang diberikan oleh Allah pada seorang suami berkait rapat pula rezeki isteri dan anak-anaknya. Fatimah ra putri nabi pun diriwayatkan mendapat upah dari menumbuk gandum.

Wanita boleh mencari rezeki atau nafkah jika.... 

Pada dasarnya pencari rezeki atau nafkah utama adalah suami. Tetapi pada saat suami tidak mampu kerana sakit berkepanjangan, lumpuh atau cacat dan tidak dapat menjalankan kewajibannya mencari rezeki atau nafkah maka isteri diperbolehkan membantu mencari rezeki atau nafkah agar keperluan rumah dicukupi. 

Seperti halnya isteri Nabiyullah Ayub as yang harus bekerja memenuhi keperluan keluarga saat Nabiyullah Ayub sakit dan tidak dapat bekerja.

Bolehkah menyuruh isteri mencari nafkah atau rezeki?
Kewajiban isteri adalah taat pada suami sepanjang itu dalam koridor agama Tapi jika suami menyuruh isteri bekerja banting tulang mencari rezeki untuk menghidupi keluarganya sementara suami sihat-sihat saja tidak wajib untuk ditaati. 

Kerana tanggung jawab mencari rezeki ada di bahu suami. Isteri dan suami sudah diberikan tugas masing-masing. Suami lah pencari rezeki utama, seberapa pun hasilnya. Jika isteri ingin mencari nafkah sifatnya membantu saja dan jika diizinkan oleh suaminya.
" Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah sesuai kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberikan nafkah dari harta yang diberikan Allah padanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepanya. Allah kelak akan memberi kelapangan sesudah kesempitan" ( Q.S. At Thalaq : 7)
Menyuruh isteri bekerja mencari rezeki itu sama saja dengan mengalihkan tanggung jawab dan menzalimi isteri. Hal seperti ini tidak disukai Allah dan akan menjauhkan rezeki dalam genggaman kita. Harusnya suami yang menyuruh isterinya bekerja padahal dia masih sihat malu pada diri sendiri. 

Apakah wajar seorang lelaki yang secara fizik lebih kuat, lari dari tanggung jawab dan membebankan pada isteri untuk memberi makan dirinya dan anak-anaknya? Tentu saja tidak wajar. Tapi mengapa masih banyak suami yang merelakan isterinya mencari nafkah padahal dirinya mampu menyara anak isterinya walaupun secara sederhana?

Wallahu alam.
loading...

0 comment... add one now